Dua Kursi Kayu



      Saat itu, ketika sabtu mulai berakhir,  aku melihat banyak kebahagiaan di tempat-tempat itu. Diatas kursi kayu itu. Keras, tak seperti sofa, tapi cukup nyaman untuk mereka berbincang dan sekedar melepas rindu. Kemudian rayuan tiba-tiba saling bertemu dan bertegur sapa setelah jarak dan waktu telah membuatnya seperti terpenjara. Akupun yang termenung sendirian diatas kursi kayu yang lain jua merasakan energi kehangatan cinta dua manusia itu. Sungguh sederhana dan indah ketika kulihat mereka tanpa ragu untuk saling memuji, bercanda serta bercerita yang ditemani dengan secangkir Cappucino Hot Hazelnut dan segelas Choco Oreo Frape. Aku terus melihatnya sambil kunikmati segelas Green Tea Bubble Tea yang menjadi menu minuman favoritku.

      Tak terasa malam semakin larut. Waktu telah mengingatkanku untuk kembali ke rumah. Akupun mulai beranjak pergi dan kutinggalkan mereka yang masih asik berbincang untuk memadu kasih di malam itu yang biasa diberi nama malam minggu. Kutelusuri jalanan yang sepi itu, yang begitu dingin tanpa ada bintang dan bulan yang menghiasi langit yang kelam. Sesampaiku dirumah, akupun masih teringat dengan raut bahagia para pemadu kasih yang sangat terasa hangat. Sesekali aku juga penasaran dengan hal-hal semacam itu. Tapi kemudian kuabaikan, karena bagiku masih begitu rumit untuk bisa kumengerti arti semua itu.

      Mengingat kursi kayu tadi, aku merasa bahwa bagiku hingga detik ini satu kursi kayu saja sudah cukup untukku, dengan ditemani meja kayu yang diatasnya ada Green Tea yang terolah menjadi segelas minuman kesukaanku dan sepiring tempe mendoan dengan sambal kecap yang lezat. Karena aku memang masih terlalu ragu untuk menjalin sebuah hubungan. Aku masih terlalu ragu untuk menjadi orang yang akan sangat digantungi seseorang. Aku masih terlalu nyaman untuk satu kursi kayu beserta satu meja kayunya untuk saat ini.

      Malam semakin larut. Mataku sudah tak lagi bisa kupaksakan untuk terus bekerja menemaniku menulis sajak-sajak yang sudah menjadi kesenanganku. Sehingga aku terlelap begitu cepat sampai bunyi ayam berkokok membuatku terbangun dari indahnya mimpi di sabtu malam itu. Lantas kuteruskan untuk merakit beberapa aksara yang kutulis dengan tinta hitam penaku di atas buku kusam yang kuberi nama bank aksara1198.

                  Kenapa harus sibuk mengisi satu kursi kayu yang kosong 
                  di deretan dua kursi yang saling berhadapan
                  Ketika satu kursi kayu saja sudah cukup bagimu 
                 Terkadang memang telihat malang 
                 Tapi jika duduk berdua tak membuatmu nyaman 
                 Mengapa harus dipaksakan
                 Biarkan itu kosong dan tak bernyawa
                 Sampai kamu tiba di suatu malam minggu 
                 Dengan dua kursi yang bertuan dan saling berhadapan
                 Dimana para tuannya berperan menjadi sepasang kekasih yang saling memadu kasih
                
               
       



Komentar

Postingan Populer