Dua Kursi Berkedok Kapitalis di Negeri Keraton Surakarta
Dua Kursi Berkedok Kapitalis di Negeri Keraton Surakarta
Dua kursi itu, tak seperti dulu, karena kursi ini terbuat dari besi bertempat di sebuah dunia yang berkedok kapitalis. Kursi kayu yang kosong itu, menggingatkanku pada satu hal bahwa sendiri tak lagi menyenangkan. Ada saatnya dimana sesosok manusia harus bersama dengan manusia lain, untuk terus berbincang, saling tertawa, saling menguatkan, dan saling memberikan kehangatan. Bersama adalah sebuah kata yang paling hangat, peredam rindu yang bagaikan amarah, dan pelindung tubuhmu dari basahnya terkena rintik hujan. Bersama tak selamanya tentang dua insan yang saling menebar asmara, tapi bersama memilik banyak sekali definisi. Bersama itu bisa saja tentang aku dan temanku, tentang aku dan mamaku, tentang aku dan ayahku, tentang aku dan adikku, tentang aku dan kakakku, tentang aku dan alam semesta.
Jika bersama hanya terdefinisi aku, cinta, dan dia, maka sungguh sempit sekali akal manusia dalam mendefinisikan sebuah kata. Bagiku bersama juga tak selamanya tentang manusia dan manusia, hewan dengan hewan, tumbuhan dengan tumbuhan. Bersama itu luas, tak terukur, tak disempitkan dengan kategori. Layaknya sebuah kata yang biasa disebut dengan cinta. Cinta itu tak bisa hanya memiliki satu definisi. Cinta adalah sebuah rasa, rasa yang tak terlihat, tak bisa kau dekap tapi bisa membuatmu gila. Jika suatu hari bersama dan cinta sedang mendatangi, maka duniamu akan penun dengan lukisan langit. Setiap detik kau akan lihat langit bagaikan senja dan pelangi. Tak ada petir yang menakutkan juga tak ada awan hitam yang kelam. Semua indah, indah seperti langit itu, langit dengan segala macam cahaya penerangnya.
Jika segala akal dan fikiranmu masih menjeratmu untuk terpenjara dalam kesendirian, maka kusarankan engkau untuk mengambil kunci penjaramu. Manusia tak diciptakan untuk sendiri, itulah mengapa tuhan menciptakan bermilyar-milyar manusia dengan segala keunikannya. Tujuannya adalah untuk saling mengenal, saling mengasihi, dan saling memberikan kebahagiaan. Karena pada dasarnya dengan bersama kita mengerti satu hal, bahwa ketika kita tergelincir ada tangan tangan yang akan menarikmu kembali bangkit. Kamu juga akan mengerti satu hal bahwa pertemanan sejati itu ada dan tak banya di novel novel belaka. Kamu juga akan menemukan sesosok manusia yang akan membantumu tanpa pamrih. Kamu akan bertemu dengan orang-orang sederhana tapi ia tak sudi untuk terikat oleh aturan kaum kapitalis hindia belanda.
Terima kasih surakarta dan seisinya, karenamu aku jadi mengerti bahwa setiap hal yang kita lakukan tak semata-mata karena uang dan untuk uang. Aku jadi mengerti bahwa pertemanan sejati itu ada. Dan aku jadi mengerti bahwa bersama akan menimbulkan rasa yang mahadasyat untuk menjalakan petualangan hidup. Jika di jakarta aku bertemu dengan sesosok spesies yang maha ambis dan induvidualis. Tapi surakarta pertemukan aku dengan sesosok spesies yang maha asyik dan sosialis.
"Karena pelangi tak akan indah hanya dengan satu warna, dan langit akan terasa sepi dengan hadirnya satu bintang, jadi kolaborasi alam semesta yang paling menakjubkan adalah dengan terus bersama,"
Paragon Mall, Surakarta, 2 Juli 2018

Siyaaaap
BalasHapus