Aku adalah Manusia dengan Realita Seutuhnya

    Aku ini adalah permukaan yang mungkin engkau kagumi. Kau mungkin jadikan permukaanku ini bagaikan seni dalam setiap goresan tinta kuasmu atau menjadi alasan terbesar kamu lahirkan sajak-sajak puisimu bahkan bisa jadi permukaanku ini adalah tawamu saat segala gundah menghantui. Tapi, aku bukan sekedar permukaan yang sedang kau lihat dengan telanjang mata. Bisa jadi aku jauh dari indahnya permukaanku. Aku mungkin lebih rumit dan juga mungkin akan sangat pahit. Maka jangan kau nilai aku dengan diksi-diksi yang hanya berbau sastrawi, tapi juga nilai aku dengan kata-kata yang mungkin manusia benci.

    Aku tak seindah itu, aku mungkin adalah lukisan paling tak berharga juga puisi yang paling membosankan. Jangan lihat aku dari permukaan, lihatlah aku hingga ke dasar lautan. Maka nanti mungkin kau akan temukan aku yang seindah karang-karang juga mungkin kau temukan aku dalam kegelapan yang menyedihkan. Aku bukan pangeran atau putri yang ada di dongeng-dongeng yang ibumu bacakan. Aku adalah manusia dengan realita yang seutuhnya dan juga membosankan. Manusia yang tak lepas dari sebuah dusta, nista, juga murka. Maka jangan mudah untuk mengagumiku atau menjadi kekasih hidupku, jika kau tak temukan cela dalam setiap tutur kata dan perilakuku. Maaf aku tak bisa ijinkan kamu untuk terlalu cepat tersihir oleh permukaanku yang penuh tipu. Sungguh sejatinya aku ini hanya tak lebih dari pendosa yang bersemayam dibalik indahnya raga atau strata yang mungkin engkau eluh-elukan selamanya. Aku adalah hitam sayangku dan mungkin aku adalah persetan yang akan membuatmu gila. Jangan mudah sekali tertipu oleh permukaanku yang penuh rayu.

    Tak kuijinkan kamu melihatku hanya sebatas bayang-bayang. Menyelamlah dan tenggelamlah dalam samudra keegoisan.Tenggalamlah juga dalam lautan kebodohan. Jangan lihat aku ketika aku sedang berakal berlian tapi juga lihat aku saat segalanya terlihat bodoh karena sebuah kegilaan yang memalukan. Aku tak seperti mereka yang normal adanya yang mungkin sangat suka engkau puja dengan banyak diksi yang puitis. Aku adalah manusia yang dengan realita seutuhnya dan lebih suka kau maki dengan segala kalimat yang engkau benci dan jauh dari romantis. Kafirkanlah aku, anjingkanlah aku, matikanlah aku dengan segala diksi yang aku benci. Karena sejatinya manismu hanya karena permukaanku bukan karena dasar yang sudah pernah kau tenggalam di dalamnya. Berbahagialah kamu yang mungkin masih melihat aku dari permukaan, tapi untuk kamu yang sudah menyelam dari segala laut kenistaanku dan masih mau bersamaku, aku doakan kamu agar  tuhan memberimu surga dan kesejahteraan.


"Aku ini adalah lautan hitam tapi kadang aku ini juga lautan biru penuh dengan keanekaragaman dan keindahan. Sayangku jika kamu memang rela untuk menjadi kekasih seorang pendosa sepertiku. Maka akan kuijinkan kau melihat hitamku juga melihat warna-warna yang lain dalam diriku. Karena permukaanku ini hanyalah tipu daya. Dan aku tak ingin kamu tertipu olehnya, karena aku tahu kamu itu berharga untuk mendapat tipu daya permukaanku yang hanya sebuah keliru. Selami aku dan tinggalkan aku ketika kau tak sanggup ada di dalam samudraku yang penuh luka."

Komentar

Postingan Populer