Ceritaku Masih Monoton

aku selalu berada dalam rangkaian cerita yang memutuskan untuk membuat ending sendiri. Tanpa ada diskusi dengan tokoh lain tentang ending yang diingini. Aku selalu terjebak dengan segala hal yang bernama ketidakpastian. Tidak putih tapi juga tidak hitam, semuanya menjadi mengambang seenakanya, tidak tenggelam tapi juga tak terangkat ke daratan. Begitulah aku dengan segala cerita yang harus aku lalui tapi tidak aku ingini. Karena memang cerita itu tak bisa aku negosiasi untuk tak dijalankan dalam realita yang sejatinya ingin aku hapus saja. Aku tak bisa menjadi aktris yang seenaknya protes kepada sutradara untuk menghilangkan adegan adegan yang tak aku suka. Aku ini bagaikan wayang yang akan hidup ketika ada cahaya dan akan mati ketika segalanya tak lagi terang benderang. Aku dituntut untuk multitelanta dengan segala macam peran aku harus bisa. Aku yang sudah dibayar untuk bermain dipanggungg pertunjukan memang tak bisa begitu saja meninggalkan tanggungjawab. Aku sudah terikat kontrak dengan sang sutradara, bayarannya pun sudah aku terima. Dengan perjanjian aku tak akan protes menjalankan segala adegan dalam skenarionya. Tinta bebentuk tanda tanganku juga sudah ia pegang. Maka yang bisa aku lakukan adalah menjalankannya dengan tenang.

"Hidup dengan rutinitas
Keras, keras, dan keras 
Tapi aku tetap harus berperan 
Menjadi 
Ikhlas, ikhlas, ikhlas

Apa apaan ini (dalam hatiku lirih)
Aku tak mau lakukan itu (dalam hatiku memberontak)

Kemudian

Pada akhirnya 

Aku hanya bisa bilang 'akan aku lakukan' 

Sekian "

Komentar

Postingan Populer